Kritik Sastra Puisi “Aku Berkisar Antara Mereka”


Aku Berkisar Antara Mereka

Aku berkisar antara mereka sejak terpaksa

Bertukar rupa dipinggir jalan, aku pakai mata mereka

Pergi ikut mengunjungi gelanggang bersenda:

Kenyataan-kenyataan yang didapatnya

(Bioskop Capital putar film Amerika, lagu-lagu baru irama mereka berdansa)

Kami pulang tidak kena apa-apa

Sungguh pun ajal macam rupa jadi tetangga

Terkumpul dihalte, kami tunggu tren dari kota

Yang bergerak dimalam hari sebagai gigi masa.

Kami, timpang dan pincang, negatip dalam janji juga

Sandarkan tulang berulang pada lampu jalan saja

Sedang tahun gempita terus berkata

Hujan menimpa, Kami tunggu tren dari kota.

Ah hati mati dalam malam ada doa

Bagi yang baca tulisan tanganku dalam cinta mereka

Semoga segala sypilis dan segala kusta

(Sedikit lagi bertambah derita bom atom pula)

Ini buktikan tanda kedaulatan kami bersama

Terimalah duniaku antara yang menyaksikan bisa

Kualami kelam malam dan mereka diriku pula

Ciptaan :Chairil Anwar

Puisi /Aku Berkisar Antara Mereka/ diciptakan oleh Chairil Anwar yang merupakan seorang penyair sekaligus pelopor puisi modern Indonesia. Puisi ini diciptakan pada tahun 1949, beberapa bulan sebelum ia meninggal dunia, yaitu  tanggal 28 april 1949 pada usia 26 tahun.

Puisi ini bertemakan sebuah keputusasaan dari tokoh /Aku/ yang menurut saya merupakan sang pencipta puisi itu sendiri yang berusaha menceritakan tentang kehidupannya melalui sajak-sajak indah. Menurut riwayat hidupnya, ia merupakan seorang penderita penyakit Sypilis. Hal itu diungkapkannya dalam satubaris yang berbunyi /Semoga segala sypilis dan segala kusta/.

Adapun latar/setting dari puisi ini adalah sebuah daerah yang berkembang pesat dan dipengaruhi oleh perkembangan pesat dari kota, baik itu hal yang baik maupun hal yang buruk. Tokoh /Aku/ yang menjadi tokoh utama, mengalami keputusasaan setelah ia menyaksikan kehidupan yang sekarang tumbuh pesat dengan pengaruh dari kota. Pada karyanya sebelumnya yang berjudul /Aku/, sang pencipta puisi juga mengangkat tema keputusasaan. Hampir disetiap karyanya, sang penyair selalu membuat puisi yang bertemakan keputusasaan. Berdasarkan perjalanan hidupnya, sang penyair memang mengalami hidup yang sangat sulit. Orangtuanya bercerai dan ia pun bercerai dengan istrinya.

Selain itu, puisi ini juga mengungkapkan sebuah tekanan yang memaksanya untuk melakukan sesuatu hal yang tidak ia inginkan. Hal ini dapat dilihat dari judul puisi ini, yaitu /Aku Berkisar Antara Mereka/, kata /berkisar/  dapat menjelaskan bahwa tokoh /aku/ terpaksa untuk bergabung dengan orang lain.

Baris /Bertukar rupa dipinggir jalan, aku pakai mata mereka/ menjelaskan keterpaksaan tokoh yang harus berpura-pura menjadi orang lain dan bergabung kedalam suatu kelompok. Selain itu, baris ini juga menjelaskan bahwa kehidupan yang tokoh alami sangatlah berbeda dengan situasi yang ada dikelompok atau tempat barunya itu.

Dipuisi ini juga menjelaskan perubahan menuju moderenisasi didaerah tempat sang tokoh tinggal. Hal itu tertuang dalam baris yang berbunyi, /(Bioskop Capital putar film Amerika, lagu-lagu baru irama mereka berdansa)/. Hal itu menunjukkan bahwa daerah itu yang dulunya adalah daerah biasa, sekarang menjadi kota besar dengan adanya bioskop, pemutaran lagu-lagu baru dan dansa. Dibaris lain juga dijelaskan bahwa moderenisasi telah menjerumuskan orang-orang seperti pada sajak, /Kami pulang tidak kena apa-apa/. Baris itu dapat diartikan bahwa suatu kegiatan yang telah dilakukan oleh tokoh adalah sebuah kesiasiaan.

Pada baris selanjutnya yaitu /Sungguh pun ajal macam rupa jadi tetangga/  menandakan ketidak pedulian tokoh terhadap apa yang dilakukannya. Dirinya pun sudah mengetahui bahwa ajal sudah akan menghampirinya, karena ia sudah mengidap penyakit kusta dan sypilis, seperti yang tertera dalam baris yang berbunyi

/Semoga segala sypilis dan segala kusta/. /Kami, timpang dan pincang, negatip dalam janji juga/, /Sandarkan tulang berulang pada lampu jalan saja/, /Sedang tahun gempita terus berkata/. Potongan puisi tersebut memperjelas rasa keputusasaan dari sang tokoh dalam hidup yang dijalaninya.

Keputusasaan yang dituangkan dalam puisi ini membuat puisi ini berbeda dari berbagai puisi-puisi yang pernah dibuat oleh sang penyair sebelumnya. Puisi ini lebih kepada penjelasan terdahap apa yang sedang dirasakan dan dialami oleh sang penyair. Sang penyair yang merupakan seorang penderita penyakit syfilis menyatakannya dalam puisi ini dan mengatakan bahwa umurnya tidak panjang lagi.

Puisi ini lebih mudah dipahami, karena diksi yang digunakan dibeberapa baris dalam puisi ini tidak terlalu sulit, sehingga para pembaca puisi langsung bisa mengerti apa yang terjadi atau apa yang dijelaskan dalam baris tersebut. Namun ada baris-baris tertentu yang makna katanya sulit dipahami dan baris itu terlihat tidak koheran dengan baris sebelumnya.

 

Categories: My Stories | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: